Yang Salah dari Hoki

Hi,

Jumpa kembali di newsletter Asoca. Kalau Anda adalah pembaca baru, selamat datang. Setiap minggu saya menulis tentang tips mental-wellbeing untuk lebih bahagia di tempat kerja. Kalau Anda belum subscribe, langsung klik tombol dibawah supaya tulisan saya selalu masuk ke inbox.


Topik minggu ini soal hoki. Hampir semua hal dalam hidup selalu ada kaitannya dengan hoki. Atau lebih tepatnya tingkat hoki. Tingkat hoki lagi tinggi artinya bagus. Tingkat hoki lagi rendah, jangan beli saham dulu deh auto boncos.

Hoki mempengaruhi banyak orang dengan segala jenis kasta. Rata-rata sih berusaha menafsirkan atau mengendalikan hoki. Rupanya bermacam-macam dari membaca ramalan zodiak, feng shui, dan lain-lain. Tujuannya satu, selalu hoki dan terhindar dari kesialan.

Saya sendiri percaya hoki memainkan peran penting dalam hidup. Faktor keberuntungan ini cukup berperan besar dalam memberikan kesempatan dan peluang dalam hidup saya sendiri. Saya cukup beruntung tidak perlu mencari kerja setelah lulus kuliah karena saya ditawarkan pekerjaan dari tempat saya magang.

Ini termasuk hoki yang dipersiapkan. Saya tidak semerta-merta ditawarkan perkerjaan full-time hanya karena ada pengalaman magang. Namun saya mendedikasikan waktu dan tenaga untuk mengkontribusikan waktu saya ke pekerjaan tersebut. Secara sadar, saya tahu bahwa saya akan ditawarkan pekerjaan tersebut.

Kasus saya diatas termasuk kasus tipe hoki ketiga. Ada tipe hoki lain yang bisa Anda raih namun hal tersebut akan kita bahas di lain hari. @nivi menjabarkan tipe hoki tersebut dengan sangat cantik di tweet diatas.

Bagaimana seharusnya cara pandang kita terhadap hoki menurut saya

(((disclaimer: menurut saya)))

Saya sangat suka penjelasan Marcus Aurelius terhadap hoki. Marcus Aurelius adalah seorang kaisar romawi yang pada jamannya orang paling berkuasa di dunia. Kisahnya sangat terkenal dan bahkan dipuja sebagai salah satu orang berpengaruh di dunia.

Namun Marcus Aurelius tidak merasa menjadi seorang kaisar adalah sebuah keberuntungan. Ataupun kelahirannya sebagai anak laki-laki yang kuat, sehat, tinggi, berotot dari keturunan bukan budak. Ataupun kemewahan dan privilege lainnya yang ia miliki saat hidup.

Namun ini jawabannya terhadap apa itu hoki:

That whenever I felt like helping someone who was short of money, or otherwise in need, I never had to be told that I had no resources to do it with. And that I was never put in that position myself—of having to take something from someone else.

Indah sekali. Hoki bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan, dan Marcus sadar betul akan hal itu. Dia bisa saja terlahir sebagai budak dan tidak punya kuasa akan hal tersebut. Namun Anda bisa merasa hoki atau beruntung ketika bisa membantu seseorang yang kurang beruntung.

Let’s take an example. Misalnya Anda sangat berharap mendapatkan promosi jabatan di pekerjaan. Kita bisa sepakat promosi jabatan itu adalah sebuah peluang, yang punya probabilitas. Dan hoki bisa menambah probabilitas tersebut. Anda bisa saja membaca ramalan zodiak dan mengecek hari yang pas untuk meminta promosi. Hasilnya bisa jadi tidak ada. Namun Anda juga bisa mempersiapkan diri, bertanya kepada senior, dan mempersiapkan plan agar lebih pantas promosi. Anda belum tentu mendapatkan promosi namun probabilitas meningkat.

Jadi Anda bisa melihat hoki sebagai berikut:

  1. Memisahkan batas antara hoki. Hoki hanya output yang tidak ada tuas kendali. Yang bisa dikendalikan adalah prosesnya.

  2. Kuasa untuk merasa bersyukur dan membantu orang yang kurang beruntung juga adalah salah satu bentuk hoki yang jarang diapresiasi dengan sempurna.

  3. Memandang hoki dengan seperti ini membuat Anda lebih memfokuskan energi ke hal yang berarti dan dapat dikendalikan dalam hidup.

Seperti banyak hal di dunia, hoki adalah salah satu hal yang kendali nya tidak ditangan kita. Namun jika Anda mengerti dan bersyukur dengan hal tersebut maka Anda tetap bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak.


Terima kasih telah membaca email Asoca minggu ini. Saya harap Anda merasa terinspirasi dengan informasi yang telah disajikan ya.

Jika Anda merasa newsletter ini bermanfaat, bantu saya untuk menyebarkan email ini ke 3 teman terdekat Anda. Saya yakin jika informasi ini bermanfaat untuk Anda, maka Anda bisa juga berbagi manfaat ini.

Share Newsletter Asoca

Anda juga bisa berinteraksi langsung dengan saya grup Telegram Asoca

Akhir kata terima kasih dan sampai jumpa minggu depan. 

Stay safe,

William Jakfar