Resolusi 2021: Simulasi Ketakutan

Dari William Jakfar dan Asoca

Hi dan salam jumpa kembali.

Resolusi 2021 ku

Di tahun 2021 ini saya ingin mengumumkan beberapa hal. Kenapa saya stop mengirimkan email lewat personal brand dan mengganti kembali menjadi Asoca.

14 November 2020 adalah edisi terakhir email yang saya kirimkan lewat personal brand, Saya merasa gundah. Topik yang bisa saya bahas lewat personal pribadi terasa terbatas dengan ketertarikan saya yang sangat lebar. Saya tahu ini aneh, saya tinggal suka-suka saya aja mengirimkan konten. Namun tetap saja tidak sejalan dengan yang saya inginkan.

Di lain sisi, jika Anda adalah pembaca setia saya mungkin Anda tahu pernah ada saatnya newsletter ini dinamakan Asoca, dan diubah menjadi 5 Bentang. Asoca adalah project kecil saya untuk mengedukasi anak muda tentang kesehatan mental (baca report disini). Project ini cukup berhasil menurut saya pribadi. Saya mendapatkan banyak respon dan mengumpulkan pendukung di Instagram Asoca. Namun project ini sempat terhenti karena saya fokus ke kerjaan sejenak dan ingin membuat model yang lebih matang untuk Asoca.

Setelah mencoba berbagai macam model dan menyesuaikan dengan apa yang saya sukai. Saya ingin mencoba model lebih matang dari sebelumnya. Semua publikasi saya akan mengatasnamakan Asoca dan saya ingin membahas topik yang saya sukai yaitu mental-wellbeing. Segala hal dari produktivitas, mindfulness sampai personal finance akan dibahas. Saya ingin membahas hal-hal yang biasanya dibicarakan diam-diam seperti bagaimana cara mengatur uang untuk karyawan, bagaimana stress management, menghindari burnout, dan lain sebagainya.

Walaupun saya tidak merasa orang paling kredibel untuk membahas hal ini, saya akan selalu berusaha mengumpulkan dan memunculkan sumber-sumber terpercaya jadi kita sama-sama belajar.

Note: saya juga membuat grup telegram untuk berdiskusi tentang hal diatas. Join disini ya.

Jadi salah satu resolusi 2021 saya adalah ingin berbagi hal-hal yang seharusnya dibekali saat kita masuk dunia kerja dan mudah-mudahan membuat perusahaan sadar bagaimana enviroment dan kultur yang sustainable bersama-sama. Saya ingin mulai tahun ini dengan hashtag #workhardmentalsehat.

Resolusi simulasi ketakutan

Gak afdol rasanya jika saya cuma share sesuatu tanpa berbagi apapun. Kali ini saya ingin memberikan perspektif yang berbeda soal pembuatan resolusi tahun baru.

Resolusi tahun baru selalu identik dengan hal-hal yang selalu kita inginkan, namun Anda menunggu momentum atau dorongan yang tepat untuk melakukannya.

Ingin lebih fit, pengen diet, minta naik gaji, lebih berhemat, dan lain sebagainya.

Namun hal ini biasanya gagal karena resolusi tahun baru tidak cukup kuat dalam mendorong Anda memulai melakukannya. Lantas bagaimana jika Anda mencoba gaya resolusi yang berbeda?

Gaya ini dinamakan Simulasi Ketakutan (atau Fear-Setting) yang dipopulerkan oleh Tim Ferriss.

Kenapa banyak resolusi tertunda?

Semua orang mendasarkan mimpi berdasarkan apa yang diinginkan atau apa yang ingin dicapai. Misalnya saya ingin mempunyai pekerjaan yang bergaji tinggi, hence why saya harus sekolah yang pintar dan masuk jurusan IT. Atau misalnya saya ingin terlihat lebih cantik atau ganteng maka saya akan diet dan olahraga gila-gilaan tahun ini.

Hal ini tidak terbatas ke resolusi tahun baru namun hal yang kita lakukan sehari-hari. Semuanya berbasis apa yang kita inginkan. Namun seringkali kita hanya ingin hasil yang instan, sedangkan prosesnya ditinggalkan.

Contohnya udah menjamur dimana-mana, ada iklan obat pelangsing, investasi dengan return yang gak masuk akal, dan produk-produk lainnya yang clickbait dan menawarkan hasil yang instan.

Otak kita langsung berpikir kalau ada shortcut kenapa gak diambil? Toh saya gak pengen prosesnya.

Lingkaran setan ini berputar terus menerus yang terkadang membuat kita menjadi sungkan bermimpi karena malas dengan prosesnya tapi tergiur dengan hasilnya.

Apa itu simulasi ketakutan?

Jadi premis sebelumnya adalah Anda terlalu fokus ke hasil dibanding proses. Suatu proses yang alamiah sebagai manusia. Namun bagaimana kita bisa lebih fokus ke proses?

Simulasi ketakutan adalah cara kita mendeskripsikan semua hal yang membuat kita takuti, lalu kita bertanya ke diri sendiri apakah benar aku takut dengan hal ini?

“Set aside a certain number of days, during which you shall be content with the scantiest and cheapest fare, with coarse and rough dress, saying to yourself the while: “Is this the condition that I feared?”
— Seneca

Jika Anda fokus ke hal yang Anda takuti, maka Anda akan bisa membuat resolusi yang berfokus ke menghindari terjadinya ketakutan tersebut. Misalnya Anda takut miskin seumur hidup. Semua effort yang Anda lakukan berfokus kepada tidak menjadi miskin. Anda bisa nabung dan lain sebagainya.

Bedakan antara hal yang Anda kira takuti, dan hal yang Anda benar-benar takuti. Seneca, seorang praktisi stoic mengajarkan kita harus menghadapi ketakutan kita dan melihat bagaimana respon diri sendiri terhadap hal tersebut.

Saya pernah mempraktekkannya dengan memakai baju lusuh ke mall. Awalnya saya malu dan takut setengah mati. Menurut saya itu sangat tidak pantas dilakukan. Saya bisa saja dilihat oleh teman dan keluarga. Saya bisa dikira tidak mampu membeli baju yang bagus, sampai dikira kondisi keuangan berantakan. Namun karena saya mencoba menghadapinya, saya jadi sadar bahwa saya tidak terlalu takut dicap orang tidak mampu. Judgement orang lain bukan sumber ketakutan saya untuk kasus ini.

Bagaimana melakukan simulasi ketakutan?

Lantas jika Anda ingin melakukan simulasi ketakutan, bagaimana caranya? harus mulai darimana? Anda bisa mulai dari hal berikut:

  1. Tentukan apa mimpi buruk Anda. Tulis semua situasi yang bisa membuat Anda hancur berkeping-keping. Masukan semua skenario yang bisa terjadi. Visualisasikan dengan detil.

  2. Setelah ditulis, review semua dengan baik-baik. Apakah jika hal tersebut terjadi maka hidup Anda akan berakhir? Apakah ada luka permanent yang akan didapatkan? dari 1-10 berapa dampak yang Anda rasakan? dan seberapa tinggi peluang hal tersebut terjadi?

  3. Apa langkah-langkah yang Anda lakukan untuk membetulkan hidup Anda yang hancur dengan skenario-skenario tadi? Apa hal yang bisa Anda lakukan untuk membuat semuanya dalam kendali kembali?

  4. Apa hasil positif yang bisa didapatkan dari terjadinya skenario tersebut? Misalnya tingkat pede Anda meningkat, atau kemampuan Anda mengatur keuangan naik drastis. Beri angka 1-10 berapa dampak yang dihasilkan. Apakah Anda bisa membuat situasi yang buruk tersebut menjadi berkah? Apakah sudah pernah ada orang di dunia yang melakukan hal ini sebelumnya?

  5. Jika Anda dipecat hari ini dari pekerjaan. Apa yang akan Anda lakukan? Lakukan kembali tahapan nomor 1-4 diatas. Apa hal-hal yang bisa dilakukan untuk membuat Anda kembali memiliki karir sebelumnya?

  6. Apa hal yang paling Anda takuti setelah melakukan semua hal tersebut? Terkadang hal yang paling Anda takuti lah yang harus Anda lakukan dengan segera.

  7. Apa yang Anda keluarkan jika Anda tidak melakukan apapun? Biaya untuk tetap diam dan tidak mengambil keputusan apapun juga harus dihitung. Jika Anda tetap berada dalam kondisi yang sama selama 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun? Apa yang terjadi? Financially? Emotionally? Physically?

  8. Jika Anda tidak menjawab ketujuh pertanyaan diatas, maka jawabannya cukup mudah. Anda hanya takut. Tidak melakukan sesuatu sama sekali memunculkan biaya yang kadang tidak kita duga. Ukur semua hal dan capai yang Anda inginkan.


Terima kasih telah membaca email Asoca minggu ini. Saya harap Anda merasa terinspirasi dengan informasi yang telah disajikan ya.

Newsletter ini gratis namun bukan tanpa biaya. Anda bisa bantu mendukungnya dengan bantu share email ini ke teman-teman Anda. Klik tombol dibawah ya.

Share

Anda juga bisa berinteraksi dengan saya grup Telegram Asoca

Akhir kata terima kasih dan sampai jumpa minggu depan. 

Stay safe,

William