⏰ Sibuk Beda Loh dengan Produktif!

Hi, kembali lagi di newsletter Asoca. Minggu ini bahas saya mau bahas keluhan sejuta umat: “Gue udah sibuk tapi kok gak produktif ya!”.

Sebelum itu saya mau mengumumkan 2 event penting di Asoca:

  1. Daftar Workshop “Lebih Produktif dengan GTD”
    Workshop perdana Asoca di akhir bulan (27 Feb) membahas tentang metode “Get Things Done” . Saya kupas habis-habisan gimana cara bisa makin produktif terutama pas WFH! Slot terbatas! Klik untuk daftar

  2. Survei Kondisi Kesehatan Mental Karyawan di Masa COVID-19
    Saya butuh bantuan Anda buat mengisi survei ini untuk tahu kondisi kesehatan mental karyawan di masa pandemi dan support perusahaan sekarang. Hasil survei ini akan dijadikan report juga! 2 orang pengisi yang beruntung akan mendapatkan 💵 voucher grabfood 100k 💵


Waktu jadi ukuran produktif

Tahun 2015 saya pernah magang di sebuah Bank Swasta di Bandung. Job desc nya sederhana, menghitung tabungan untuk menentukan apakah seorang nasabah bisa mendapatkan kredit usaha atau tidak. Cukup manual dan bukan perkerjaan yang menyenangkan untuk saya pribadi.

Saat itu saya masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Saya diharapkan selalu on-time karena itu termasuk penilaian performa kerja. Dengan kata lain waktu durasi bekerja jadi ukuran produktivitas.

Misalnya saya kerjanya sangat cepet dan jam 3 sore udah beres, itu gak boleh pulang duluan. Saya harus nungguin jam bubaran. Secepat apapun saya bekerja juga harus disuruh nunggu, mending kerjanya pelan aja kan?

Jadinya kita mengada-adakan kerjaan sendiri. Sok inisiatif. Nginstall game lah di komputer. Atau pura-pura ngetik sesuatu tiap bos lewat. Soalnya kalo geser dari meja dikit dibilang kurang teladan.

Ini karena waktu jadi ukuran produktivitas.

Bias terhadap orang yang rajin

Apakah ini terjadi ke kita sendiri? Enggak juga. Pandangan kita terhadap orang yang rajin pun serupa. Ada sebuah riset terkenal yang dilakukan 2010 dari University of California yang meneliti persepsi manager terhadap karyawannya.

Hasilnya mencengangkan. Manager menilai karyawannya dari berapa lama waktu yang dihabiskan di tempat kerja. Kalau karyawannya terlihat lembur, lebih mantab lagi. Teladan kantor. Walaupun hasil kerjanya tidak relevan dan apakah karyawannya beneran “kerja”.

Familiar dengan kejadian seperti ini? Seringkali pujian rajin diberikan kepada karyawan yang lembur namun sebetulnya mereka bukan rajin, tapi tidak bisa mengatur pekerjaannya dengan efisien.

Namun kultur sekarang sudah berubah dengan adanya work from home dan pandemi. Datang ke kantor bukan lagi indikator utama produktivitas. Hasil kerja adalah nomor satu.

Tantangan lebih produktif selama pandemi

Alih-alih fokus ke jam kerja yang padat, lebih baik memusatkan perhatian ke hasil pekerjaan yang optimal. Tidak ada lagi satpam yang ngecek absen kantor, tapi kalau kerjaan gak deliver bisa kena sikaat.

Jika Anda adalah manager, karyawan, freelancer, ataupun menjalankan bisnis ada beberapa tips yang bisa dijalankan untuk stop menjadikan waktu sebagai indikator produktif:

  1. Hindari meeting gak penting
    Di masa serba zoom yang apa-apa harus meeting supaya bisa koordinasi, coba telaah terlebih dahulu. Apakah semua meeting seminggu terakhir produktif? atau sebetulnya tidak ada hasilnya? Bisakah meeting diganti dengan update via chat group dengan dokumentasi yang lebih rapih? Atau jika meeting sangat diperlukan maka pastikan agenda dan tujuan meeting super jelas.

  2. Definisikan arti produktif
    Produktif masing-masing orang berbeda. Sibuk bukan produktif. Punya goal yang sangat spesifik bisa membuat pekerjaan kita lebih produktif. Anda juga bisa mempelajari metode GTD (Get Things Done) untuk menambah produktivitas.

  3. Kurangi tugas repetitif
    Udah gak jaman lagi tugas repetitif. Sekarang jamannya automation. Interaksi ke tugas-tugas repetitif harus dihilangkan apalagi jika sangat menyita waktu. Kasih waktu ke diri sendiri buat belajar otomasi, dan hidupmu akan lebih efisien.

  4. Fokus ke 20%
    Hukum pareto sederhana. 80% yang Anda hasilkan datang dari 20% yang Anda kerjakan. Coba analisis deh kerjaan sekarang, mana yang paling impactful dan mana yang sebetulnya tidak urgent.

Duduk depan laptop emang kerasa keren dan kerja keras. Mata sakit. Namun tidak ada gunanya jika tidak produktif dan menghasilkan results. Semoga dengan pandemi ini definisi produktif akan berganti menjadi lebih optimal.