👊 Generalist VS Specialist

Hi, edisi kali ini saya akan membahas tentang perdebatan karir yang udah ada dari jaman dulu, pilih jadi generalist atau specialist?

Definisi

Secara umum, generalist adalah orang yang tahu tentang banyak hal. Sedangkan specialist adalah orang yang punya pengetahuan mendalam terhadap suatu bidang tertentu.

Makin kesini makin digaung-gaungkan: mau jadi generalist atau specialist? saya sering melihat banyak akun-akun menjual training yang mengajarkan hal tersebut namun saya punya pendapat yang agak berbeda.

Umumnya perdebatannya bisa dipersingkat menjadi:

  • Generalist tahu banyak hal, tapi tidak jago di hal apapun. Jadi masa depannya tidak pasti karena tangga karir makin keatas butuh orang yang ahli.

  • Specialist tahu sangat dalam suatu bidang. Namun apabila bidangnya tidak relevan lagi di masa depan, maka hampir tamatlah karirnya.

Generalist dianggap orang multi talenta, sedangkan specialist menjadi orang yang super fokus. Namun kayaknya jaman sekarang dikotomi ini agak blur deh.

Generalist yang sebenarnya specialist

Saya mau cerita tentang sedikit karir saya. Saya seorang profesional digital marketing yang membuat strategi untuk klien maupun perusahaan sendiri. Lantas bagaimana sih cara menjadi seorang digital marketer yang handal?

Andai saya tahu. Tapi dalam perjalanan pribadi, saya tidak merasa diri sebagai orang specialist karena pekerjaan digital marketing itu membutuhkan skill set yang lebar dari:

  • Kemampuan menganalisa dan mengamati trend

  • Bisa pakai dan ngerti teknologi kayak digital ads, website, search engine, dll

  • Harus bisa kreatif dan inovatif juga

  • Paham konten dan media digital

  • Dan lainnya

Keahlian ini tidak semata-mata diajarkan dalam sebuah kursus pasti bisa digital marketing hanya 3 minggu. Butuh latihan untuk mengakuisisi dan menggabungkan itu semua. Walaupun sekarang digital marketing kini dipecah-pecah juga rolenya menjadi: ahli iklan, ahli konten, ahli analytics, ahli SEO, ahli email, dkk skill yang dibutuhkan tetap lebar.

Mengurusi email bukan sekedar bisa blast email dan pakai mailchimp. Harus tahu teknologi email, mengukurnya gimana, konten apa yang disukai subscriber, fitur-fitur terbaru dari industri email marketing dan lain sebagainya.

Singkat cerita, industri yang menurut orang lain sangat specialized pun memiliki banyak irisan. Dalam bayangan saya pun disetiap industri juga seperti ini.

Namun karena saya mengerti digital marketing yang dasarnya behavior manusia, gampang bagi saya untuk pindah ke cabang ilmu lain seperti menulis, membuat konten, investasi (karena terkait mengatur ekspektasi dan membaca trend), public speaking, dan lainnya.

Apakah saya disebut sebagai generalist kalau begitu? bingung juga deh.

Jadi apa sih generalist vs specialist?

Menurut saya seorang generalist bisa menjadi specialist saat ia bisa menghubungkan skill-skill yang lebar tersebut menjadi satu. Misalnya untuk menjadi seorang penulis novel membutuhkan skill imajinasi, merangkai kata, menulis, negosiasi dengan publisher, marketing dan lainnya. Kombinasi ini membuat seorang penulis novel handal dan hidup dari karyanya.

Contoh lain misalnya seorang photographer. Skill utamanya adalah bisa memotret. Namun untuk bisa hidup dari fotografi maka ia juga harus paham betul cara merangkai cerita dari foto, pemasaran diri sendiri, pengelolaan keuangan, negosiasi, cara membuat pelanggan tersenyum, dan sebagainya.

Sehingga saya berpikir mungkin kata “specialists” ini hanya muncul untuk pekerjaan yang kita familiar saja. Mungkin antara industrinya sudah terbentuk atau memang sudah ada sekolahnya.

Namun bukan berarti kesempatannya stop disitu. Contoh kayak digital marketing termasuk industri yang tidak melihat latar belakang pendidikan karena ilmu yang selalu berkembang tiap tahun. Baru bikin kurikulum buat anak baru tentang Facebook Ads, algoritmanya bisa berubah bulan depan.

Masih banyak kombinasi skill yang bisa dijadikan spesialisasi baru. Mungkin Anda suka masak + membuat video + mengelola keuangan, bisa saja Anda mengedukasi ibu-ibu untuk membuat masakan hemat lewat video. Belum ada sekolahnya soal itu.

Kesimpulan

Generalist maupun specialist intinya membuat diri sendiri menjadi unik dan susah di copy. Kalau susah di copy, Anda mempunyai keuntungan lebih dibanding orang lain yang sangat umum. Bayangkan mencari pengganti Anda yang mengerti cara membuat konten masakan murah tadi. Rasanya sulit sekali dan nilai Anda meningkat.

Saran saya jangan terlalu tertekan pada trend apakah harus generalist atau specialist. Cari jalur yang Anda lebih sukai. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan namun waspada dengan jargon-jargon yang suka mempromosikan salah satu dibanding lainnya.


OK, segitu dulu sharing kali ini.

Sekarang giliran Anda. Klik tombol forward dan sebarkan email ini ke 1-2 temanmu yang tertarik dengan cerita seperti ini. Mereka juga bisa subscribe untuk mendapatkan update di: asoca.id/newsletter. Semakin banyak disebar, semakin berkualitas konten kami.

Terakhir, saya minta tolong ambil 2 detik saja untuk reply email ini jika Anda suka dengan edisi kali ini:

  • A+ = gila topiknya bagus banget!

  • B = ya lumayan..

  • C = meh..

  • D or F = gak suka banget!

Let me know your feedback! Anda juga bisa berinteraksi dengan saya di grup Telegram.

Stay safe,

William