👁 Confirmation Bias: Melihat yang di Percayai

Apa yang Anda lihat tergantung apa yang Anda percayai atau alami. Apakah itu benar? gak tau. Tapi apakah Anda mengambil keputusan terlalu “cepat” karena udah ngerasa tau?

Contoh pribadi, ada temen ikut MLM, langsung konotasinya: “Oh ikut MLM ya.” hanya karena background kita kerja kantoran dan ngerasa ikutan MLM itu berasa ketipu. Apakah benar? belum tentu.

Contoh lain, kalau punya pengalaman ketemu atau denger emak-emak bawa motor sembarangan otomatis jadi reflek ngejek semua emak-emak yang berpotensi sen kiri belok kanan. Jadi hati-hati kan? Padahal emak-emaknya bisa aja bawa motor sesuai aturan.

Confirmation bias adalah tendensi kita untuk mengambil kesimpulan dari ide atau kepercayaan yang sudah kita punya sebelumnya.

Bagaimana Confirmation Bias bekerja?

Willard V. Quine dan J.S. Ullian menjelaskan dalam buku The Web of Belief bahwa keinginan untuk mendapatkan kebenaran dan terlihat benar adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah hak untuk mendapatkan kebenaran yang mulia. Namun ingin terlihat benar adalah ego yang berpotensi menutup kesalahan cara berpikir atau melihat diri sendiri.

Cara paling mudah mendeteksi confirmation bias saat Anda mengambil keputusan tanpa melihat fakta. Pake feeling aja. Feeling yang kadang termovitasi dari keinginan pribadi juga.

Saya sendiri sering melihat kasus ini di pemilihan politik. Seorang calon dipilih karena narasi calon tersebut terdengar indah. Indah di mata, telinga, ataupun hati sang pemilih.

Tahun 2018, saya sedang naik taxi online di kota kembang dan dua minggu lagi akan diadakan Pilkada. Karena penasaran saya nanya dong ke mas supir nya, “Mas, nanti pilih siapa pas Pilkada?”. “Oh pilih A mas”, jawabnya. Lalu saya mendengarkan 10 menit alasannya serta berbagai fakta-fakta yang terdengar meyakinkan. Tetapi kalimat terakhirnya adalah, “Saya sih pilih dia karena calon B nyebelin mas, gak mau mendukung taxi online dan bikin macet jalan.”

Loh oke, jadi sebetulnya mas taxi online ini sebel dengan calon B tidak menyatakan aspirasinya. Pindah lah pilihannya ke A, yang notabene belum tentu akan mendukung taxi online juga. Fakta nya calon B yang menyatakan tidak mendukung taxi online, calon A tidak bilang apapun belum tentu mendukung. Namun karena calon A tidak ada statement maka kita bisa dengan cepat mengira calon A mendukung taxi online. Apalagi jika mata pencaharian saya tergantung pilihan ini.

Contoh lain yang cukup terlihat di confirmation bias adalah:

  • Mata seorang saksi. Jika ada kenal dengan seseorang yang menjadi korban, maka Anda cenderung simpatik terhadap korban tersebut. Padahal belum tentu korban betul karena satu dan lain hal. Namun cerita tragis membuat Anda langsung percaya.

  • Info hoax. Ada alasan kenapa info hoax lebih cepat menyebar di Whatsapp dibanding platform lain. Karena Whatsapp membawa nama pesan penyebar informasinya jadi Anda berharap orang tersebut menyebarkan informasi yang setidaknya sudah ia baca dan benar. Padahal kebanyakan orang cuma share tanpa baca.

  • Tempat kerja. Ah dia dapet promosi, ini pasti gundik baru si bos. Atau mitos-mitos seperti cowok lebih gampang dapet promosi dibanding cewek. Mitos-mitos atau gosip ini membuat Anda berpikir ada sebuah peraturan tidak tertulis di tempat kerja, padahal sebetulnya itu hanya bawaan orok yang tidak benar.

Cara agar tidak bias

Karena ini bawaan orok dari manusia, maka yang bisa Anda lakukan adalah mengubah operating system (OS) Anda sedikit demi sedikit dengan mengingatkan diri. Tanyakan kepada diri sendiri berikut:

  • Apakah saya telah mendengar semua cerita dari semua pihak atau langsung jatuh ke kesimpulan?

  • Apakah sumber beritanya terpercaya?

  • Apa yang membuat saya langsung percaya?

  • Bagian mana yang saya langsung skip karena merasa langsung percaya?

  • Apakah ada kemungkinan yang terjadi hal sebaliknya?


OK segitu dulu sharing kali ini,

Sekarang giliran Anda, saya butuh respon Anda untuk 3 hal yaitu:

  • Saya membuka open consultation untuk diskusi karir, produktivitas, dan lainnya. Balas email ini untuk diskusi dengan saya yaa

  • Suka dengan email ini? Ajak dua teman Anda untuk subscribe di asoca.id/newsletter dan follow Twitter saya untuk mendapat update terbaru

  • Terakhir, saya minta tolong ambil 2 detik untuk klik ❤️love❤️ dibawah jika Anda menyukai edisi kali ini 👇👇👇

Salam hangat,

William Jakfar

Founder of Asoca 

P.S. Join grup private telegram Asoca disini