💬 Chat dari bos jam 12 malam

Hi semuanya, kali ini saya pengen bahas yang lagi viral nih.

By the way kalau Anda adalah pembaca baru, jangan lupa subscribe dengan klik tombol dibawah ini.

Banyak banget orang yang bilang kalau tweet ini membunuh makna work-life balance karena doi adalah seorang public figure. Tapi ada juga yang membenarkan hal ini. Katanya dibalikin lagi ke masing-masing individu.

Tapi gimana kita menyikapinya? terutama kalau kita yang dichat di sabtu malem. Dan bos punya reputasi suka mecat orang???? 😡 🤬

Kenapa ada Bos seperti itu?

Sebelum emosi kita diaduk, ada baiknya kita mencoba memahami kenapa ada Bos yang seperti itu. Saya cukup beruntung selama ini belum pernah berkerjasama Bos seperti itu, namun cukup sering saya melihat klien yang nampaknya dibawah Bos seperti itu.

Seperti itu maksudnya apa? Sangat passionate dan menginginkan orang lain se-passionate itu dengan bisnis dan kerjaannya. Saya menggunakan kata passionate, bukan memaksa karena kita gak tau intensi nya negatif atau positif kan?

Bisa aja bisnisnya sedang ada di fase yang sulit dan menguras otak. Berat baginya untuk membayar gaji per bulan dan ia ingin semua orang survive.

Bisa gitu kan?

Atau mungkin ia sangat cinta bekerja dan mendedikasikan hidupnya buat bekerja. Sabtu malam adalah waktu terbaik untuk ia konsentrasi dan mengeluarkan semua idenya. Disaat yang bersamaan Anda adalah orang terpercaya yang ingin ia berikan pesan.

Atau kalau kita tahu fakta sebetulnya, mungkin orangnya emang asshole.

Terlepas dari semua skenario, kadang kita mengambil kesimpulan dari sepotong informasi. Terlebih dalam hal ini biasanya kita mengambil mode defensif. Seakan-akan semua orang berkonspirasi untuk memojokkan kita dan tidak membiarkan kita istirahat.

Latihan Menghadapi Orang Lain

Oke, kita loncat bentar ke cerita yang lain. Pernah kah kita ada di posisi marah kepada orang tua karena merasa tidak dimengerti? Saya pas masih muda suka ngerasa dunia gak adil. Kenapa gak ada yang ngertiin saya sih?

Masalah sepele misalnya minta dibeliin hadiah. Kadang kita gak terima hadiah yang disuka terus komplain. Marah-marah super gak jelas.

Padahal kita gak tau apa konteks dibalik itu. Mungkin barangnya habis, atau orang tua kita gak tau barangnya karena cuma kode, atau memang gak sempet dibeliin.

Poinnya adalah kita bias dalam mengambil kesimpulan karena kebawa emosi duluan.

Satu hal yang saya pelajari:

Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin sering salah paham.

Kenapa? karena ada ekspektasi yang sudah timbul. Ah masa sih ortu ku gak tau yang aku mau. Aku kan anak kesayangan, bla bla bla bla.

Sekarang kita balik lagi ke kasus diatas,

Sebelum memberikan reaksi terhadap chat bos saat jam 12 malem di weekend! coba Anda duduk sejenak dan berpikir kenapa bos bisa chat jam segitu.

Apakah intensinya jelek? ingin ngetest responsive kah Anda di malam hari?

Atau intensinya berbeda?

Sebelum memberikan respon ada baiknya kita duduk dan menerka kondisi dengan segala informasi yang kita miliki, baru memberikan bumbu emosi jika diperlukan.

Apa yang bisa dilakukan nih?

Anggaplah intensinya jelek, kontrol terhadap respon masih tetap di diri Anda sendiri. Anda tetap mengatur respon negatif maupun positif yang keluar dari diri sendiri.

Mari kita simulasikan beberapa hal yang bisa terjadi:

  1. Anda tidak merespon balik, dan membalas pada hari Senin. Namun hati sudah kesal karena weekend diganggu.

  2. Anda merespon balik dan bilang kalau saya akan balas itu segera hari senin. Namun hati sudah kesal karena weekend diganggu.

  3. Anda tidak merespon balik dan membalas pada hari Senin. Namun tidak ambil hati karena toh memang bukan jam kerja.

Bayangkan jika Anda mengambil opsi pertama. Sudah responnya lama, Anda pun merasa cemas karena weekendnya seakan-akan diambil. Rugi sekali.

Namun jika Anda diam sejenak dan tenang, Anda bisa juga loh mengambil opsi 3 yang tidak mengambil hati. Weekend Anda tetap bisa tenang walaupun tahu sudah di chat Bos.

Atau Anda bisa mengambil opsi 4, balas dengan santun dan bilang kalau:

“Baik pak akan saya pelajari chat ini dan saya jadikan prioritas di hari Senin. Terima kasih ya”

Memberikan konfirmasi dan menyatakan hal ini membuat Anda lebih tenang dan komunikasi tetap berjalan lancar.

Respon apapun yang Anda ambil harus menguntungkan diri sendiri.


OK, segitu dulu sharing minggu ini.

Sekarang giliran Anda. Klik tombol forward dan kirimkan email ini ke 1-2 teman yang tertarik dengan cerita seperti ini. Mereka juga bisa subscribe untuk mendapatkan update di: asoca.id/newsletter. Bantuan Anda menyebarkan newsletter ini bisa meningkatkan kualitasnya!

Terakhir, saya minta tolong ambil 2 detik saja untuk reply email ini jika Anda suka dengan edisi minggu ini:

  • A+ = gila topiknya bagus banget!

  • B = ya lumayan lah

  • C = meh

  • D or F = gak suka banget!

Let me know your feedback! Anda juga bisa berinteraksi dengan saya di grup Telegram.

Stay safe,

William