👊 Bos Terburuk Sedunia!

Minggu lalu lagi banyak gosip beredar. Katanya ada startup-startup yang nyeleneh dalam memanfaatkan AI (bukan artificial intelligence, tapi anak intern) dan work culturenya yang bagus diluar jelek didalam. Usut punya usut ada dua perusahaan yang muncul yaitu Ruanggulag dan Glitch.

Apa kesamaan dari cerita Ruanggulag dan Glitch?

  • Keduanya startup yang pastinya masih scrappy

  • Punya track record yang bagus dari berita media

  • Work culturenya ada masalah, menurut desas desus

Atau jangan-jangan karyawan yang spill lagi apes dapet bos terburuk sedunia?

Buat yang ketinggalan gosipnya bisa bales email ini untuk dikasih referensinya ya ;)

Siapa Bos Terburuk Sedunia?

Yuk kita coba objektif. Kali ini saya mau mengutip salah satu artikel dari salah satu penulis favorit saya, Seth Godin. Seth menulis tentang bos terburuk sedunia tahun 2010, viral, dan masih relevan sampai sekarang.

The world’s worst boss

That would be you.

Even if you’re not self-employed, your boss is you. You manage your career, your day, your responses. You manage how you sell your services and your education and the way you talk to yourself.

Odds are, you’re doing it poorly.

If you had a manager that talked to you the way you talked to you, you’d quit. If you had a boss that wasted as much of your time as you do, they’d fire her. If an organization developed its employees as poorly as you are developing yourself, it would soon go under.

I’m amazed at how often people choose to fail when they go out on their own or when they end up in one of those rare jobs that encourages one to set an agenda and manage themselves. Faced with the freedom to excel, they falter and hesitate and stall and ultimately punt.

We are surprised when someone self-directed arrives on the scene. Someone who figures out a way to work from home and then turns that into a two-year journey, laptop in hand, as they explore the world while doing their job. We are shocked that someone uses evenings and weekends to get a second education or start a useful new side business. And we’re envious when we encounter someone who has managed to bootstrap themselves into happiness, as if that’s rare or even uncalled for.

There are few good books on being a good manager. Fewer still on managing yourself. It’s hard to think of a more essential thing to learn.

Source: Seth’s Blog

Tanpa mengesampingkan fakta bahwa ada ketidakadilan dalam dunia nyata. Namun kendali terbesar tetap ada di diri sendiri. Di komunitas private Asoca, acap kali kita berdiskusi tentang kejamnya senior dalam memberikan tugas, atau atasan yang menyebalkan. Namun akan lebih baik jika kendali ada di diri sendiri.

Bayangkan kata-kata Seth:

Apakah jika kita jadi manager diri sendiri, bicara dan memotivasi diri sendiri seperti sekarang, Anda akan resign?

Faktor eksternal akan selalu ada. Shit happens. Company growth tinggi tapi Anda tidak mendapatkan bonus, ada. Company bilangnya kasih pengalaman tapi benefit tidak sesuai, banyak. Company yang udah bayarnya rendah, tapi gak kasih pengalaman juga, gak keitung.

Tapi nyalahin keadaan gak solutif. Nyari bantuan baru solutif. Coba tanya ke temen yang mungkin pernah ngelewatin hal yang sama. Tanya ke HRD yang supportif selama confidential. Atau tanya ke komunitas yang dirasa supportif.

Kalau analoginya Anda adalah bos diri sendiri, dan perusahaan Anda adalah seorang klien. Anda tentu harus memutuskan kenapa Anda ingin bekerjasama dengan klien seperti itu?


OK, segitu dulu sharing kali ini.

Sekarang giliran Anda. Klik tombol forward dan sebarkan email ini ke 1-2 temanmu yang tertarik dengan cerita seperti ini. Mereka juga bisa subscribe untuk mendapatkan update di: asoca.id/newsletter. Semakin banyak disebar, semakin berkualitas konten kami.

Terakhir, saya minta tolong ambil 2 detik saja untuk reply email ini jika Anda suka dengan edisi kali ini:

  • A+ = gila topiknya bagus banget!

  • B = ya lumayan..

  • C = meh..

  • D or F = gak suka banget!

Let me know your feedback! Anda juga bisa berinteraksi dengan saya di grup Telegram.

Stay safe,

William Jakfar